Rabu, 14 Oktober 2009 - 13:29:26 WIB
Pendidikan Harus Disiapkan Lebih Dini
Diposting oleh : Administrator
Kategori: pendidikan - Dibaca: 357 kali




Anak-anak tunanetra atau yang memiliki gangguan penglihatan perlu dipersiapkan sedini mungkin untuk siap menjalani pendidikan. Dengan penanganan secara individu sejak dini, anak-anak tunanetra bisa belajar hingga ke jenjang yang tinggi di sekolah umum ataupun di sekolah biasa.

Untuk itu, pusat layanan dini dikembangkan di sekolah luar biasa (SLB). Untuk pertama kali di kawasan Indonesia timur, pusat layanan itu didirikan di SLB Pembina Tingkat Provinsi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Peresmian pusat layanan dini untuk anak tunanetra dan anak dengan gangguan penglihatan di SLB Pembina Tingkat Provinsi Kota Makassar yang bekerja sama dengan Helen Keller International (HKI) dan USAID dilakukan Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan Rachmat Latief, Selasa (13/10). Hadir juga dalam acara tersebut adalah Country Director HKI John Palmer, Manajer Program Nasional Opportunities for Vulnerable Children (OVC) HKI Emilia Kristiyanti, dan Andi Patawari, Kepala Seksi Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan.

Rachmat mengatakan, adanya komitmen Indonesia dalam education for all, atau pendidikan untuk semua, anak-anak berkebutuhan khusus juga perlu diperhatikan hak-haknya dalam pendidikan. Mereka harus terlayani dalam pendidikan dasar sembilan tahun.

”Selama ini anak-anak berkebutuhan khusus sulit bersekolah karena SLB ada di kota. Dengan disiapkan sejak dini seperti di pusat layanan dini anak tunanetra, nantinya mereka bisa siap belajar di sekolah umum yang dekat dengan tempat tinggal mereka,” kata Rachmat.

John Palmer mengatakan, pusat layanan dini tersebut melayani anak tunanetra usia 3-8 tahun. Anak-anak itu bisa mendapatkan bekal awal untuk dapat memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, baik di sekolah umum maupun SLB.

Fatimah Azis, Kepala SLB Pembina Tingkat Provinsi Kota Makassar, menjelaskan, dengan adanya pusat layanan dini, anak-anak tunanetra bisa dibantu sejak awal sesuai kebutuhan secara individu. Pada saat masuk usia sekolah, anak-anak tersebut memiliki pilihan untuk belajar di sekolah umum, sekolah inklusi, atau SLB.

”Kapasitas sekolah di SLB dibatasi supaya tiap anak yang berkebutuhan khusus bisa maksimal dilayani. Jika anak tunanetra bisa mandiri dan tidak bermasalah dalam belajar, lebih baik mereka belajar bersama di sekolah reguler,” kata Fatimah. Adanya layanan dini untuk anak tunanetra bisa semakin memperkuat SLB sebagai sumber belajar. K


  • Dibiayai APBD, Guru Madrasah Disekolahkan Pemprov
  • Mendiknas Jamin Kembalikan Fasilitas Pendidikan Korban Gempa
  • Penelitian Matematika Lebih Banyak untuk Naik Pangkat!
  • 0 Komentar :

    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Untitled Document
    Untitled Document
    .: Berita Singkat :.
  • Guangzhou, China, 14 Desember 2010, PGRI telah menandatangani MoU dengan South China Normal University dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

  • Konferensi Kerja Nasional III PGRI Tahun 2011

    27-30 Januari 2011
    Provinsi Gorontalo

  • Seoul, 5 Maret 2011, Penandatanganan Kerja sama antara PB PGRI dengan Korean Federation of Teachers Association. Kerja sama di antaranya tentang Joint Research, Workshop, dll.

  • Mohon peralihan dana BOS ke  Pemda di tinjau kembali karena sangat mempersulit sekolah. Dalam pembelian harus dilampirkan NPWP. SIUP dan SPK dari tempat pengambilan dana BOS di kantor Pos harus ada Rekomendasi dari Dinas.

  • RAKORNAS 2011, Jakarta Grand Cempaka Hotel

    Membahas berbagai persoalan guru, pendidikan, dan organisasi serta Proker sesuai Keputusan Konkernas III Gorontalo, PB PGRI mengundang Saudara Ketua dan Sekretaris Pengurus PGRI Provinsi untuk menghadiri acara Rakornas PGRI Tahun 2011 di Grand Cempaka Hotel, Jakarta 29 - 31 Mei 2011.