
Anak-anak tunanetra atau yang memiliki gangguan penglihatan perlu dipersiapkan sedini mungkin untuk siap menjalani pendidikan. Dengan penanganan secara individu sejak dini, anak-anak tunanetra bisa belajar hingga ke jenjang yang tinggi di sekolah umum ataupun di sekolah biasa.
Untuk itu, pusat layanan dini dikembangkan di sekolah luar biasa (SLB). Untuk pertama kali di kawasan Indonesia timur, pusat layanan itu didirikan di SLB Pembina Tingkat Provinsi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Peresmian pusat layanan dini untuk anak tunanetra dan anak dengan gangguan penglihatan di SLB Pembina Tingkat Provinsi Kota Makassar yang bekerja sama dengan Helen Keller International (HKI) dan USAID dilakukan Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan Rachmat Latief, Selasa (13/10). Hadir juga dalam acara tersebut adalah Country Director HKI John Palmer, Manajer Program Nasional Opportunities for Vulnerable Children (OVC) HKI Emilia Kristiyanti, dan Andi Patawari, Kepala Seksi Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan.
Rachmat mengatakan, adanya komitmen Indonesia dalam education for all, atau pendidikan untuk semua, anak-anak berkebutuhan khusus juga perlu diperhatikan hak-haknya dalam pendidikan. Mereka harus terlayani dalam pendidikan dasar sembilan tahun.
”Selama ini anak-anak berkebutuhan khusus sulit bersekolah karena SLB ada di kota. Dengan disiapkan sejak dini seperti di pusat layanan dini anak tunanetra, nantinya mereka bisa siap belajar di sekolah umum yang dekat dengan tempat tinggal mereka,” kata Rachmat.
John Palmer mengatakan, pusat layanan dini tersebut melayani anak tunanetra usia 3-8 tahun. Anak-anak itu bisa mendapatkan bekal awal untuk dapat memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, baik di sekolah umum maupun SLB.
Fatimah Azis, Kepala SLB Pembina Tingkat Provinsi Kota Makassar, menjelaskan, dengan adanya pusat layanan dini,
”Kapasitas
sekolah di SLB dibatasi supaya tiap anak yang berkebutuhan khusus bisa
maksimal dilayani. Jika anak tunanetra bisa mandiri dan tidak
bermasalah dalam belajar, lebih baik mereka belajar bersama di sekolah
reguler,” kata Fatimah. Adanya layanan dini untuk anak tunanetra bisa
semakin memperkuat SLB sebagai sumber belajar. K
.: Berita Singkat :. |