Senin, 26 Oktober 2009 - 15:03:44 WIB Menjadikan TI sebagai Alat Belajar-Mengajar Diposting oleh : Administrator
Kategori: pendidikan
- Dibaca: 454 kali
Kalau institusi pendidikan tidak dapat menyediakan
lingkungan belajar yang sesuai dengan gaya hidup siswanya, kampus dapat
ditinggalkan.
Di banyak sekolah, ilmu komputer masih
diperlakukan sama dengan mata pelajaran lainnya. Yakni, murid-murid
mempelajari ilmu komputer, kemudian mereka dites mengenai pengetahuan
dan kemampuannya mengenai ilmu komputer tersebut.
Menurut
Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
(Hipmi) Erwin Aksa, sudah waktunya penggunaan komputer sebagian dari
Teknologi Informasi (TI), di sekolah menengah (SMP dan SMU) diperluas.
"Jangan hanya sekadar sebagai sebuah mata pelajaran. Lebih penting lagi
adalah menjadikan komputer atau TI sebagai alat belajar-mengajar," ujar
Erwin Aksa.
Dia menjelaskan, berbagai materi pelajaran bisa
dicari melalui internet. "Guru bisa menugaskan murid-murid untuk
mencari bahan-bahan terkait dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia,
Biologi, Kimia, Agama, bahkan Seni Budaya lewat internet," paparnya.
Direktur
PT Zahir Internasional, Muhammad Ismail Thalib mengatakan hal senada.
"Pelajaran komputer di sekolah-sekolah menengah kita belum dijadikan
sebagai tools (alat) untuk menggali berbagai materi pelajaran. Penggunaannya masih sangat minim," tuturnya.
Padahal,
kata Muhammad Ismail, TI merupakan dunia yang nyaris tanpa batas.
"Boleh dikatakan, hal apa pun yang kita cari di internet, terkait
dengan mata pelajaran sekolah, bisa kita temukan dan jumlahnya sangat
banyak. Dengan demikian, kalau siswa terbiasa memperdalam materi
pelajarannya melalui searching di internet, dia dapat memperdalam sekaligus memperluas wawasan ilmunya," ujar Muhammad Ismail.
Diakui oleh Erwin, saat ini sudah ada sejumlah sekolah SMP dan SMA yang menjadikan TI sebagai tools
belajar-mengajar, namun masih terbatas terutama pada sekolah-sekolah
internasional milik swasta. "Dengan alokasi anggaran sebesar 20 persen
dari APBN, kita berharap sekolah-sekolah pemerintah pun menerapkan hal
yang sama," tandas Erwin Aksa. Tiga hal Ketua
Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom), Richardus
Eko Indrajit menjelaskan, perubahan paradigma penggunaan komputer dari
bahan ajar menjadi alat ajar terkait dengan tiga hal.
Pertama , manusianya. Menurut Eko, ada perbedaan
karakter antara generasi muda sekarang dan generasi sebelumnya.
Generasi tua dapat disebut digital imigrant . Maksudnya,
pendidikan komputer baru didapat setelah masuk ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi. Penggunaannya pun masih sebatas mengetik dan
sebagainya. Sedangkan generasi saat ini dapat disebut sebagai digital native
. "Generasi ini telah mengenal komputer sejak merek lahir. Jadi, sudah
bukan menjadi barang baru lagi," ujarnya. Karena telah terbiasa dengan
komputer dan teknologi informasi, maka generasi sekarang akan merasa
aneh jika sekolah tidak menggunakan komputer.
Kedua
, tambah Eko, adalah proses belajar-mengajarnya. Dulu, buku dan guru
menjadi sumber segala informasi. Karenanya, apa yang dikatakan dua
pihak ini akan diterima siswa sebagai hal yang benar. Tapi dengan
adanya teknologi informasi, hal ini tidak berlaku lagi. Kini siswa
dapat mencari informasi apapun di internet. Karenanya, pengetahuan
siswa dapat menjadi semakin kaya. Bahkan, dapat berkomunikasi langsung
dengan sumber ilmu itu sendiri. Seperti penulis buku, pemenang Nobel,
dan sebagainya. "Sebelumnya kita belajar ada broker -nya. Yaitu guru
dan buku. Tapi kini semuanya dapat dicari langsung," tambahnya.
Ketiga
, teknologi itu sendiri. Saat ini, karena bentuknya semakin kecil dan
dapat dibawa ke mana-mana, teknologi informasi telah menjadi gaya hidup
( lifestyle ) masyarakat. Dengan demikian, untuk belajar,
siswa tidak perlu lagi datang ke kelas atau pun perpusatakaan. Atau
bahkan bertemu muka dengan gurunya.
Hal ini senada dengan
ucapan Rektor Universitas Bina Nusantara (Binus), Harjanto Prabowo. Ia
mengatakan, di kalangan anak sekarang, komputer dan teknologi informasi
telah menjadi gaya hidup. Karenanya, institusi pendidikan pun harus
dapat mengikuti dengan menyediakan lingkungan belajar yang sesuai
dengan gaya hidup siswanya.
"Akan berbahaya kalau institusi
pendidikan tidak dapat menyediakan lingkungan belajar yang sesuai
dengan gaya hidup siswanya. Kampus dapat ditinggalkan. Kalau pun tidak,
kampus hanya akan menjadi badan yang melegalisasi ijazah. Sementara
siswanya mencari ilmu dari tempat lain," paparnya.
Model belajar
guru mencari bahan dan memberikannya ke siswa di kelas pun akan semakin
berat. Dengan teknologi yang semakin berkembang, siswa dan guru menjadi
sejajar. Karena masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk
mencari informasi yang tidak terbatas oleh tembok ruang kelas.
Hal
ini, lanjut Harjanto, akan mengubah peran guru. Jika sebelumnya guru
berperan sebagai pengajar, ke depan guru akan bertindak sebagai
fasiltitator. "Nantinya, guru hanya mengarahkan siswanya dalam mencari
informasi apa yang dicari untuk kemudian dibahas dan dipelajari
bersama. Jadi guru jangan khawatir untuk ditinggalkan," papar Harjanto.
Meskipun
begitu, jelasnya, tantangan ke depan justru terletak di pundak guru.
Yaitu agar guru tidak tertinggal dari siswanya. Serta bagaimana guru
menggunakan teknologi informasi yang ada untuk menjangkau siswa. Sebab,
fokus perhatian siswa dan dosen berbeda. "Yang penting adalah mencari
titik-titik interaksi di mana guru dan siswa dapat bertemu dan
memasukkan konten pendidikan di titik tersebut," ucap Harjanto. R