Rabu, 28 Oktober 2009 - 15:46:11 WIB Malapraktik Bisa Terjadi di Dunia Pendidikan Diposting oleh : Administrator
Kategori: iptek
- Dibaca: 414 kali
Malapraktik ternyata tak hanya terjadi di dunia kedokteran. Di dunia
pendidikan, kasus malapraktik pun banyak ditemukan terutama pada kelas
pemula di jenjang pendidikan sekolah dasar (SD), yakni kelas 1, 2 dan 3.
”Siswa
malas belajar, menjadi pasif, dan takut terhadap jenis mata pelajaran
tertentu, serta prestasi siswa tidak optimal, ini bisa jadi indikasi
malapraktik. Padahal, saat di TK siswa-siswa itu kreatif,” ujar Kepala
Sub Direktorat Program Ditjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan (PMPTK) Depdiknas, Abi Sujak, dalam siaran persnya, Rabu
(2/9).
Menurut Abi, indikasi demikian banyak ditemukan pada anak
didik. Namun tidak banyak guru yang menyadari bahwa apa yang terjadi
pada siswa tersebut sebenarnya merupakan bentuk malapraktik pendidikan.
Malapraktik ini, lanjut dia, terjadi akibat beberapa hal. ''Di
antaranya guru kurang memahami latar belakang dan bakat siswa serta
perbedaan budaya antara guru dengan lingkungan sekolah,'' jelasnya.
Untuk
menyelamatkan siswa dari malapraktik ini, Depdiknas bakal menerapkan
program induksi bagi guru pemula. Program induksi adalah semacam
orientasi bagi guru pemula untuk mengenal dan memahami tugas-tugasnya
sebagai pendidik, dengan mengedepankan pengenalan lingkungan dan siswa
yang akan dihadapi.
Program yang akan diterapkan selama setahun
tersebut bakal melibatkan kepala sekolah maupun guru senior untuk
menjadi mentor saat guru pemula melakukan tugas pengajaran di kelas.
”Jika dalam evaluasi ternyata guru yang bersangkutan tidak layak
mengajar, maka ia tidak bisa dipaksakan menjadi guru. Ia bisa saja
dialihkan ke tugas lain seperti administrasi atau petugas
perpustakaan,'' cetusnya.
Program induksi ini, diakui Abi, untuk
sementara hanya diberlakukan pada guru-guru pemula. Pertimbangannya,
selain keterbatasan dana, umumnya guru pemula belum banyak mengenal
lapangan.
Namun, belum bisa dipastikan kapan program induksi ini
bakal diterapkan mengingat payung hukumnya belum ada. Namun Depdiknas
sendiri sudah menerapkan program ini pada enam kabupaten percontohan
yakni Sumedang, Bantul, Pasuruan, Padang, Banjarbaru, dan Minahasa
Utara.
Sementara itu, dari data Depdiknas untuk tiga tahun ke
depan bakal ada ribuan guru pemula. Menurut Edy Rahmat Widodo, dosen
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Universitas Negeri
Jakarta (UNJ), pada 2012 nanti terdapat 222 ribu guru yang pensiun,
lalu 10 tahun ke depan 470 ribu guru pensiun, dan 15 tahun ke depan 890
ribu guru pensiun.
Edy mengingatkan, 15 tahun ke depan--jika
890 ribu guru pensiun--akan ada sekitar 26,7 juta murid yang akan
diajar guru-guru baru. ”Terhadap guru-guru pemula inilah kami akan setting program induksi,” tandasnya. R
malapraktik tidak hanya terjadi di kelas 1, 2, dan 3, tetapi juga bisa terjadi di kelas 4, 5, dan 6. Pun juga bukan hanya guru pemula yang mungkin melakukan malapraktik, guru yang dianggap seniorpun bisa saja melakukan malapraktik, bahkan Kepala Sekolah juga sangat mungkin melakukan malapraktik. Karena itu program induksi seperti uraian di atas tidak akan efektif. Menurut saya yang perlu ditingkatkan adalah intensitas kontrol terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas oleh Kepala Sekolah dan Pengawas. Hanya yang perlu diperhatikan bagaimana kontrol tersebut tidak menimbulkan "rasa takut" terhadap guru. Sebenarnya terhadap permasalahan tersebut masing-masing pihak sudah tahu, tetapi pelaksanaannya yang sering "tidak sesuai" dengan teorinya. Mengapa? (Tetapi saya juga merasa bangga bahwa banyak juga guru-guru yang "bagus" dalam melaksanakan tugasnya) Isi Komentar :